Sorong Today, Aimas – Konser Papua Van Java (PVJ) yang digelar di Alun-alun Aimas, Kabupaten Sorong, pada Sabtu (18/4/2026) malam berlangsung meriah dan disambut antusias ribuan masyarakat.
Event ini dinilai berhasil mengobati kerinduan warga akan hiburan berskala besar di wilayah Papua Barat Daya.
Penanggung jawab sekaligus Event Director PVJ, Eko Paul Werditi mengungkapkan rasa syukur atas suksesnya penyelenggaraan acara tersebut.
“Puji syukur, acara berlangsung sukses, meriah, dan pecah. Ini menjadi tolak ukur kami untuk pelaksanaan event di kota selanjutnya,” ujar Eko Paul Werditi.
Lebih lanjut, dirinya menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, khususnya Distrik Aimas, yang telah memberikan dukungan penuh sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan konser.
Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Gubernur Papua Barat Daya yang hadir langsung bersama istri dan dinilai berperan besar dalam menyukseskan acara. Kehadiran gubernur bahkan disebut turut membantu masyarakat agar dapat menikmati konser dengan lebih mudah.
“Beliau turut menjawab kerinduan masyarakat Sorong dengan memberikan akses kepada warga untuk menikmati kemeriahan PVJ,” ungkapnya.
Antusiasme masyarakat Kabupaten Sorong juga menjadi salah satu faktor keberhasilan acara. Ribuan penonton memadati lokasi konser dan turut memeriahkan suasana hingga acara berakhir.
Meski sukses, penyelenggara mencatat sejumlah evaluasi penting, terutama dalam aspek keamanan dan pengelolaan massa.
Eko menegaskan bahwa ke depan pihaknya akan memperketat sistem pengamanan, termasuk penataan barikade agar arus keluar-masuk penonton lebih tertib.
Kendati demikian, hal yang paling disayangkan yakni hilangnya sejumlah aset milik penyelenggara setelah acara berlangsung.
Menurut Eko, pagar seng yang jumlahnya hampir seribu lembar dilaporkan hilang hanya dalam waktu semalam. Padahal, sebelumnya telah ada kesepakatan dengan pihak kepolisian untuk melakukan pengawasan.
“Aset kami yang rencananya akan dibawa ke Merauke untuk event selanjutnya justru hilang. Ini sangat kami sesalkan karena sudah ada komitmen pengamanan, namun tidak berjalan,” tegasnya.
Tak hanya pagar, sekitar 10 kubik kayu juga dilaporkan raib, menyisakan sekitar 2 kubik. Selain itu, sejumlah properti milik sponsor serta perlengkapan di area tenda artis, termasuk cermin, turut hilang.
Ia menyebut bahwa sebagian barang tersebut merupakan milik vendor yang disewa, sehingga penyelenggara harus mengganti kerugian akibat kehilangan tersebut.
“Barang milik vendor kami sewa. Kalau hilang karena kelalaian penjagaan, tentu harus kami ganti,” jelasnya.
Hilangnya pagar dan aset lainnya tidak hanya berdampak secara materi, tetapi juga mengganggu proses pembongkaran dan pembersihan area konser.
Dalam standar pelaksanaan event, pagar atau barikade seharusnya menjadi elemen terakhir yang dibongkar setelah seluruh peralatan produksi dan sampah dibersihkan.
“Ketika pagar sudah hilang lebih dulu, area menjadi terbuka dan kondisi di dalam venue terekspos. Ini berdampak pada citra pelaksanaan event yang seharusnya rapi dan bersih saat dikembalikan,” terang Eko.
Eko mengaku kecewa terhadap pihak kepolisian yang disebut telah mengakui adanya kelalaian dalam pengamanan, namun belum memberikan solusi konkret.
“Permintaan maaf saja tidak cukup menjawab persoalan kami. Ini berdampak pada persiapan event selanjutnya. Kami harus menghitung ulang dan menyusun strategi baru,” ucapnya.
Meski diwarnai berbagai catatan, Eko menegaskan bahwa konser PVJ di Aimas tetap memberikan dampak positif dan menjadi pengalaman berharga.
Pihak penyelenggara berharap pelaksanaan PVJ di kota-kota berikutnya seperti Merauke dan Jayapura dapat berjalan lebih maksimal dengan persiapan yang lebih matang, terutama dalam aspek keamanan dan manajemen aset. (*)
Tidak ada komentar