Sorong Today, Raja Ampat – Gubernur Papua Barat Daya (PBD) Elisa Kambu menyaksikan secara langsung pemasangan mooring buoy sekaligus melakukan penyerahan bantuan di Area VI Perairan Kepulauan Fam, Distrik Waigeo Barat Kepulauan, Kabupaten Raja Ampat, Rabu (21/1/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya bersama pemerintah daerah kabupaten serta mitra konservasi dalam menjaga kelestarian ekosistem laut Raja Ampat, yang dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut dunia.
Turut hadir dalam kegiatan ini Bupati Raja Ampat Orideko Iriano Burdam, Wakil Bupati Raja Ampat Mansyur Syahdan, Ketua DPR Papua Barat Daya Ortis Fernando Sagrim, Anggota DPR PBD Fraksi Otsus Robert George Yulius Wanma, Senior Vice President dan Executive Chair Konservasi Indonesia Meizani Irmadhiany, Kepala BLUD UPTD KKP Raja Ampat Syafri Tuharea, jajaran pimpinan OPD Pemprov PBD, kepala distrik, kepala kampung, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta unsur masyarakat dan mitra terkait lainnya.
Gubernur PBD Elisa Kambu mengajak seluruh masyarakat untuk selalu bersyukur atas anugerah alam yang luar biasa, khususnya Raja Ampat yang telah dikenal dunia sebagai “surga kecil yang jatuh ke bumi”.
Ia mengungkapkan, banyak wisatawan dari berbagai belahan dunia rela mengeluarkan biaya besar hanya untuk menikmati keindahan alam Raja Ampat. Oleh sebab itu, masyarakat lokal sebagai pemilik wilayah harus menjadi pihak yang paling bangga sekaligus paling bertanggung jawab dalam menjaga kelestariannya.
“Mereka datang hanya untuk menikmati, tapi kita yang punya. Karena itu kita wajib menjaga, merawat, dan melestarikan. Ini bukan barang milik kita, ini titipan untuk anak cucu kita,” ujar Gubernur PBD Elisa Kambu.
Gubernur menegaskan bahwa pemasangan mooring buoy bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk komitmen nyata pemerintah dan para pemerhati lingkungan dalam melindungi terumbu karang dari kerusakan akibat jangkar kapal yang dibuang sembarangan.
Dirinya menekankan pentingnya regulasi yang jelas dan tegas agar pengelolaan kawasan konservasi dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
“Prioritas kita pertama kelestarian alam, kedua masyarakat, dan ketiga baru pemerintah. Kalau alam rusak, semua akan hilang,” tegasnya.
Selain itu, mantan Bupati Asmat tersebut mengingatkan masih adanya praktik penangkapan ikan menggunakan bom di beberapa wilayah. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga laut dengan cara-cara yang ramah lingkungan demi keberlanjutan sumber daya alam.
Sementara itu, Bupati Raja Ampat Orideko Iriano Burdam menyampaikan bahwa masyarakat Raja Ampat sejak dahulu telah menjaga laut, pulau, dan gunung sebagai warisan leluhur. Namun demikian, menurutnya pelestarian lingkungan harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Kami jaga Raja Ampat ini untuk siapa? Kalau kami hanya jaga tapi tidak makan, itu juga tidak adil. Maka sekarang kita harus atur supaya jaga lingkungan dan masyarakat juga bisa hidup,” kata Bupati Raja Ampat Orideko Iriano Burdam.
Ia menjelaskan bahwa pemasangan mooring buoy bertujuan menghentikan kebiasaan kapal membuang jangkar sembarangan yang selama ini merusak terumbu karang. Kedepan, pemerintah daerah juga akan melengkapi kawasan tersebut dengan rambu-rambu lalu lintas laut serta jalur pelayaran yang jelas.
Lebih lanjut, Bupati menegaskan akan disusun regulasi kampung serta skema pengelolaan bersama melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) atau koperasi, agar pendapatan dari aktivitas wisata dapat dikelola secara transparan dan adil bagi masyarakat.
“Kalau kita sudah atur diri kita sendiri, baru kita bisa atur orang luar. Jangan sampai kita sendiri yang merusak apa yang sudah dijaga turun-temurun,” pungkasnya.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, dan mitra konservasi, diharapkan upaya perlindungan ekosistem laut Raja Ampat dapat berjalan berkelanjutan serta memberikan manfaat jangka panjang bagi generasi mendatang. (*)
Tidak ada komentar