Sorong Today — Lakpesdam PCNU dan Fatayat PCNU Kabupaten Sorong melalui Program INKLUSI menggelar Pelatihan Kepemimpinan Anak Muda selama dua hari bertempat di Aimas Hotel, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, Senin-Selasa (29-30/9/25)
Kegiatan ini diikuti sebanyak 20 peserta dari berbagai latar belakang organisasi dan komunitas kepemudaan, seperti Forum Anak Kabupaten Sorong, IPNU, IPPNU, Karang Taruna, pemuda gereja, Kompipa, Atap Papua, PMII, hingga HMI.
Pelatihan ini bertujuan membentuk generasi muda yang tidak hanya kritis terhadap persoalan sosial, namun mampu menawarkan solusi dan menjadi motor penggerak perubahan.
Melalui proses pembelajaran yang interaktif dan reflektif, para peserta diajak mengembangkan kepemimpinan berbasis nilai inklusif, kolaboratif, dan transformatif.
“Saya harap adik-adikku peserta pelatihan aktif selama kegiatan dan tidak sungkan menggali ilmu dari para fasilitator,” ujar Koordinator Program INKLUSI Sorong Rusyid dalam laporan pembukaannya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program yang lebih luas, yang akan berlanjut pada tahap berikutnya yaitu Jambore Hijau, sebuah forum yang mempertemukan peserta dari berbagai daerah untuk mempresentasikan hasil pelatihan dan gerakan strategis yang telah dirancang.
Turut hadir dalam pelatihan ini, Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian Jay Ahmad yang menekankan peran peran penting anak muda dalam menentukan arah masa depan bangsa.
“Kegiatan ini diinisiasi oleh GUSDURian bersama Lakpesdam PBNU karena masa depan sangat ditentukan oleh anak muda. Perubahan lima atau sepuluh tahun mendatang berawal dari langkah-langkah kecil yang kita lakukan hari ini. Semoga inilah awal dari sebuah gerakan bersama,” tutur Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian Jay Ahmad.
Pelatihan dipandu oleh Koordinator GUSDURian wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua Suaib Prawono bersama fasilitator lokal dari sub-mitra INKLUSI Sorong Siti Marfuah. Pelatihan ini membimbing peserta dalam memahami isu-isu strategis seperti perubahan iklim, hak anak, dan pencegahan perkawinan usia dini.
Setelah sesi pelatihan, para peserta akan memasuki tahap mentoring, yang dirancang untuk memperdalam pemahaman sekaligus menyusun prototipe gerakan sosial di komunitas masing-masing. Hasil dari proses ini akan dipresentasikan dalam Jambore Hijau yang rencananya digelar di Jakarta.
Melalui pendekatan partisipatif dan inklusif, pelatihan ini menjadi ruang bertumbuh bagi anak muda Sorong untuk menjadi pemimpin masa depan yang memiliki keberpihakan pada keadilan sosial, lingkungan, serta pemberdayaan komunitas.
Harapannya, inisiatif lokal ini mampu menular dan berkembang menjadi gerakan nasional yang lebih luas.
“Kegelisahan sosial harus kita olah menjadi energi perubahan, dan kritik harus berkembang menjadi solusi,”menjadi pesan utama yang menggema sepanjang pelatihan.
Dengan semangat kolaborasi lintas agama, organisasi, dan latar belakang, kegiatan ini mencerminkan cita-cita bersama untuk Indonesia yang lebih inklusif dan berkeadilan, dipimpin oleh generasi muda yang sadar dan bertanggung jawab atas masa depan. (*)
Tidak ada komentar