Sorong Today, Sorong – Kepala Suku Moi Maya Kabupaten Sorong, Amirudin Umalelen mengecam keras dugaan aksi pembunuhan yang diklaim dilakukan oleh kelompok yang mengatasnamakan diri sebagai Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) di Kampung Banfot, Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya.
Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi pada Minggu malam, 8 Maret 2026 lalu, sekitar pukul 19.00 WIT. Insiden itu mengakibatkan satu orang pria dilaporkan meninggal dunia.
Sebelumnya, sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan pernyataan dari pimpinan Batalyon Sawok TPNPB, Thobias Yekwam yang mengklaim bahwa kelompoknya bertanggung jawab atas penyerangan tersebut.
Dalam pernyataannya, Thobias menyebut operasi tersebut dilakukan bersama sejumlah anggota yang berada di bawah komandonya. Ia mengaku serangan dilakukan pada malam hari dengan target dua orang.
“Penembakan dilakukan sekitar pukul 19.00 WIT. Satu orang meninggal dunia dan satu lainnya melarikan diri,” kata Thobias dalam pernyataan yang beredar di media sosial.
Dirinya menyebut beberapa nama yang diduga ikut terlibat dalam operasi tersebut, yakni Ateng Yekwam, Silas Yesnat, Daud Yenggereng, dan Yohanis Yeblo.
Thobias menambahkan bahwa operasi itu berada di bawah komando Komando Daerah Pertahanan (Kodap) XXXIII Ru Mana Tambrauw.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Suku Moi Maya Kabupaten Sorong, Amirudin Umalelen menegaskan bahwa dirinya mengecam keras segala bentuk kekerasan yang menyebabkan hilangnya nyawa manusia.
Ia menyatakan tindakan kekerasan seperti itu tidak dapat dibenarkan dan berpotensi merusak keamanan serta persatuan masyarakat di wilayah Papua Barat Daya.
“Saya sebagai Kepala Suku tidak menginginkan kekerasan yang sampai menghilangkan nyawa manusia. Tujuan kita adalah menjaga persatuan dan kehidupan masyarakat yang damai,” ujar Kepala Suku Moi Maya Kabupaten Sorong, Amirudin Umalelen.
Amirudin kembali menegaskan bahwa wilayah adat Moi harus dijaga dari berbagai bentuk konflik dan kekerasan. Menurutnya, Tanah Moi selama ini dikenal sebagai wilayah yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan, kebersamaan, dan kehidupan yang damai di tengah masyarakat.
“Saya mengecam keras segala bentuk gerakan yang membawa kekerasan ke tanah Moi. Tanah Moi ini luar biasa, baik tanahnya maupun masyarakatnya. Karena itu kita harus menjaga kedamaian dan persatuan,” tuturnya.
Pada kesempatan itu, dirinya mengajak seluruh masyarakat untuk tetap menjaga kebersamaan serta tidak mudah terprovokasi oleh berbagai tindakan yang berpotensi mengganggu keamanan dan persatuan di wilayah Papua Barat Daya.
Amirudin berharap semua pihak dapat menahan diri serta mengedepankan dialog dan kedamaian demi menjaga stabilitas keamanan dan kehidupan masyarakat di wilayah tersebut. (*)
Tidak ada komentar