Sorong Today, Sorong – Di sebuah rumah sederhana di Jalan Macan Tutul, RT 3 RW 1, Doom Timur, Distrik Sorong Kepulauan, Kota Sorong, Papua Barat Daya, tangan seorang mama Papua tak pernah berhenti bergerak.
Benang demi benang dipilin, dirajut, lalu disatukan menjadi sebuah noken, tas tradisional khas Papua yang sarat makna budaya dan kehidupan.
Mama itu bernama Noli Saru, atau yang akrab disapa Mama Saru, seorang pengrajin noken Orang Asli Papua yang telah menekuni kerajinan tangan ini sejak tahun 2017 hingga sekarang.
Awal mula Mama Saru merajut noken bukan dari bangku kursus atau pelatihan resmi. Semuanya berawal dari kerinduan.
“Biasanya mama lihat orang lain pakai noken, bagus. Terus mama punya kerinduan, keinginan—kira-kira saya bisa anyam begitu atau tidak,” ujar Mama Saru sambil merajut noken.
Rasa penasaran itu mendorongnya untuk belajar secara otodidak. Ia meminta diajari orang-orang di sekitarnya, lalu mencoba sendiri di rumah. Tanpa disangka, usahanya membuahkan hasil.
“Syukur puji Tuhan, langsung jadi tau. Pulang beli benang, bikin sendiri dan akhirnya jadi,” ucapnya.
Dari situlah perjalanan Mama Saru dimulai. Dengan modal awal sekitar Rp100.000, Mama Saru membeli benang dan berhasil membuat tiga buah noken ukuran sedang. Masing-masing dijual dengan harga Rp50.000.
“Syukur ada yang beli. Dari situ modal berjalan terus sampai sekarang,” imbuhnya.
Kini, sejak 2017 hingga 2026, Mama Saru telah memiliki kios kecil sendiri di depan rumah untuk menggantung dan menjajakan noken buatannya.
Jumlah noken yang telah ia hasilkan tak terhitung.
“Kalau hitung dari 2017 sampai sekarang, terlalu banyak. Ada yang sudah dibawa ke Raja Ampat, Ambon, Jawa, bahkan sampai ke Prancis,” bebernya.

Salah satu pengalaman berkesan Mama Saru yakni ketika seorang tamu asal Prancis datang langsung ke rumahnya.
“Dia datang sendiri, lihat-lihat, tanya-tanya. Kebetulan dia bisa bahasa Indonesia,” sebutnya.
Tamu tersebut tertarik dengan bahan noken yang digunakan.
“Dia tanya kenapa pakai benang, bukan kulit kayu seperti di pegunungan. Saya bilang, di Pulau Doom susah dapat bahan begitu, jadi kita pakai benang,” tuturnya.
Noken buatan Mama Saru pun akhirnya dibawa hingga ke Eropa, menjadi simbol budaya Papua yang menembus batas negara.
Keunikan noken Mama Saru terletak pada motifnya yang tidak pernah sama.
“Yang ini tidak sama dengan yang ini. Semua beda,” terangnya sambil menujuk noken hasil buatannya.
Ia bahkan mengajarkan keterampilan ini kepada anak-anaknya.
“Mama ajar anak-anak juga. Namun motif anak-anak punya, beda dengan mama punya,” ungkapnya:
Beberapa anaknya kini sudah mampu membuat noken dengan motif nama, sementara Mama Saru fokus pada motif dasar dan pengembangan desain.
Noken buatan Mama Saru hadir dalam berbagai ukuran, mulai dari ukuran 20 cm, 25 cm maupun 30 cm.
Untuk ukuran kecil, seperti noken HP, proses pembuatannya bisa selesai dalam satu hari, sementara ukuran besar bisa memakan waktu hingga dua hari.
Harga jual bervariasi mulai dari Rp50.000 untuk noken kecil, Hingga Rp300.000 untuk ukuran besar serta pernah ada pesanan khusus mencapai Rp500.000.
Untuk kenyamanan pembeli, Mama Saru menambahkan resleting dan lapisan dalam, meski ia harus menjahitkan ke tukang jahit lantaran tidak memiliki mesin jahit sendiri.
“Biaya jahit Rp10.000, tetapu yang penting pembeli rasa aman,” katanya.
Dari hasil merajut noken, Mama Saru mampu menghidupi keluarganya. Penghasilannya tidak menentu, namun bisa mencapai Rp2–3 juta per bulan bahkan pernah Rp7 juta dalam satu hari, saat banyak tamu dari luar daerah datang.
“Dari sini bisa sekolahkan anak-anak. Ada yang D3, ada yang S1, SMA, SMP, sampai SD,” bebernya.
Suaminya bekerja sebagai driver longboat, mengantar wisatawan untuk menyelam atau berlayar.
Meski karyanya telah dikenal hingga luar negeri, Mama Saru mengaku belum pernah menerima bantuan pemerintah, baik dari kelurahan, distrik, maupun kota.
“Kalau bantuan belum pernah sama sekali,” singkatnya.
Ia berharap pemerintah lebih serius memperhatikan pengrajin noken, terutama mama-mama Papua.
“Kalau bisa jangan cuma gantung-gantung saja. Buat event, pameran rutin, enam bulan sekali,” harapnya.
Menurutnya, kurangnya perhatian membuat banyak pengrajin berhenti.
“Banyak yang bisa bikin, tapi karena tidak diperhatikan, akhirnya malas bikin lagi,” sebutnya.
Mama Saru pernah mengikuti salah satu Festival kerajinan yang digelar dan merasakan langsung dampaknya.
“Banyak yang terjual, senang, dapat sertifikat. Tapi cuma satu kali itu saja,” ujarnya.
Kini, ia tetap bertahan, merajut noken dan harapan di Pulau Doom, meski tanpa bantuan.
“Kalau mama, tidak. Mama tetap bikin,” ucapnya.
Di tangan Mama Saru, noken bukan sekadar tas. Ia adalah budaya, penghidupan, dan masa depan yang terus dirajut, benang demi benang. (*)
Tidak ada komentar