Sorong Today – Dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana alam, Korem 181/PVT menggelar latihan lapangan penanggulangan bencana banjir di wilayah Sorong Papua Barat Daya.
Kegiatan ini berlangsung selama lima hari, dimulai dari Senin hingga Jumat (21–25 September 2025), dan melibatkan sekitar 150 personel dari berbagai instansi terkait.
Kasiops Kasrem Kolonel Infanteri Utsman Abdul Ghofir mengatakan bahwa latihan ini merupakan bagian dari skenario terpadu dalam menghadapi bencana banjir, dengan melibatkan seluruh stakeholder yang ada di wilayah Papua Barat Daya, termasuk TNI, Polri, Basarnas, BMKG, dan unsur masyarakat.
Menurutnya, tujuan utama latihan ini adalah untuk mengkolaborasikan semua unsur terkait dalam penanganan bencana, sehingga ketika bencana alam benar-benar terjadi, seluruh pihak sudah siap turun tangan secara cepat dan terkoordinasi.
“Tujuan kita yakni melatih semua unsur tersebut dalam penanganan bencana, sehingga apabila benar-benar terjadi bencana, kita sudah siap melaksanakan penanggulangan dengan fokus pada pelayanan kepada masyarakat terdampak,” ujarnya.
Dipaparkannya,latihan dibagi ke dalam dua tahap, dimulai dari latihan posko (latposko), kemudian dilanjutkan ke latihan lapangan (latlap). Pada tahap posko, peserta dilatih dalam aspek administrasi penanggulangan bencana, termasuk pengelolaan pertanggungjawaban, keuangan yang transparan, serta mekanisme perbantuan antarinstansi.
Selanjutnya, latihan dilaksanakan di lapangan dengan simulasi penanggulangan banjir di lokasi-lokasi rawan banjir, khususnya di wilayah Sorong Manoi, Sorong Timur, dan Sorong Kota hingga daerah yang sering terdampak akibat aliran tiga sungai besar di wilayah tersebut.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari seluruh peserta. Bahkan, beberapa pihak berharap latihan di masa depan dapat mencakup skenario yang lebih kompleks, seperti vertikal rescue, penanganan kecelakaan laut, dan mitigasi tsunami—mengacu pada potensi ancaman yang juga sering terjadi di wilayah Papua Barat.
“Para peserta berharap ke depan bisa dilakukan latihan yang lebih beragam, termasuk untuk penanganan bencana laut maupun kemungkinan tsunami,” ucapnya.
Selama lima hari pelaksanaan, seluruh personel dan instansi terlibat standby di lokasi, siap bergerak kapan saja jika terjadi bencana alam yang memerlukan penanganan cepat.
Latihan ini menjadi bentuk nyata komitmen bersama lintas instansi di Papua Barat Daya untuk memastikan masyarakat selalu terlindungi dan mendapatkan penanganan cepat, tepat, dan profesional ketika bencana datang. (*)
Tidak ada komentar