Sorong Today, Sorong – Rumah produksi Aksa Bumi Langit menggelar Gala Premiere film “Teman Tegar Maira: Whisper from Papua bertempat di Bioskop XXI Ramayana Mall Sorong, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Rabu (14/1/2026).
Film ini menjadi karya sinema yang menempatkan Papua sebagai subjek cerita dengan melibatkan talenta lokal secara dominan.
Pelaksanaan Gala Premiere tersebut dihadiri Wakil Gubernur Papua Barat Daya Ahmad Nausrau, Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Papua Barat Daya Atika Rafika, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Malamoi Torianus Kalami, Pembina Yayasan Bentang Alam Papua Syafrudin Sabonama, Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Sorong Indria Nur, serta sutradara film Anggi Frisca dan produser Chandra Sembiring.
Turut hadir para pemeran utama film, diantaranya Elisabeth Sisauta sebagai Maira, M. Aldifi Tegarajasa sebagai Tegar, Joanita Chatarine sebagai Teh Ise, serta para pemeran lokal lainnya.
Sutradara sekaligus pendiri Aksa Bumi Langit, Anggi Frisca menuturkan bahwa film ini lahir dari kegelisahannya melihat potensi besar cerita lokal yang kerap terabaikan.
“Saya selalu senang melihat perfilman di daerah, namun sering kali gajah di pelupuk mata tidak terlihat. Papua ini besar, kaya dan punya tema yang luar biasa. Film ini kami harapkan bisa menginspirasi teman-teman lokal untuk bangga dengan identitasnya dan berani bercerita dari sudut pandang mereka sendiri,” ujar Sutradara Anggi Frisca.
Menurutnya, sekitar 70 persen sumber daya manusia dalam film ini berasal dari masyarakat lokal Papua, bahkan sebagian besar belum pernah terlibat dalam produksi film sebelumnya. Proses pendampingan pun dilakukan secara serius.
“Untuk pemeran utama, kami melakukan acting coach hampir tiga bulan. Banyak dari mereka sebenarnya punya bakat alami dan identitas yang kuat, sehingga secara karakter terasa sangat dekat dengan perannya,” jelasnya.
Anggi mengungkapkan bahwa secara artistik, film ini terinspirasi dari beberapa film keluarga dunia seperti The Lion King dan Moana. Kendati demikian, dirinya menegaskan inspirasi tersebut tidak dimaksudkan sebagai tiruan.
“Saya justru melihat Papua sangat dekat dengan nilai-nilai yang ada di film-film itu. Alam, gunung, hubungan manusia dan lingkungannya, itu semua ada di Papua. Narasi lokal Papua sebenarnya jauh lebih kaya,” ucapnya.

Sementara itu, Produser Chandra Sembiring menjelaskan bahwa film ini melalui proses panjang selama kurang lebih dua setengah tahun, dimulai dari riset hingga produksi.
“Sejak awal kami sepakat tidak menjadikan Papua sebagai objek, tetapi sebagai subjek. Kami bolak-balik datang, masuk ke desa-desa terpencil, berdiskusi dengan kepala adat, melihat langsung kehidupan masyarakat, dan belajar tentang resiliensi mereka terhadap alam,” ungkap Produser Chandra Sembiring.
Ia menyebutkan, proses pra-produksi menjadi investasi terbesar, baik dari sisi waktu maupun biaya. Selain pelibatan aktor lokal, film ini juga menggandeng musisi, koreografer, hingga kru teknis asal Papua.
“Syuting di Papua biayanya besar, tapi yang lebih penting adalah memastikan cerita ini tidak salah arah. Kami banyak berkonsultasi dengan tetua adat dan tim ahli, termasuk saat mengangkat isu krisis iklim,” sebutnya.
Pada kesempatan tersebut, Chandra menuturkan bahwa masyarakat Papua memiliki potensi seni yang sangat besar.
“Orang Papua itu punya darah seniman. Masalahnya sering kali bukan bakat, tapi akses. Lewat film ini, kami membuka akses, melatih anak-anak muda Papua, dan menghubungkan mereka dengan tim profesional,” tuturnya.
Metode tersebut, menurut Chandra, terbukti efektif dan membuka peluang baru bagi generasi muda Papua untuk terlibat dalam industri perfilman nasional.
Film Teman Tegar Maira: Whisper from Papua ini diharapkan tidak hanya menjadi tontonan hiburan, tetapi sebagai media edukasi yang menumbuhkan kebanggaan identitas, kesadaran lingkungan, serta membuka jalan bagi lahirnya sineas-sineas lokal dari Papua.
Sebagai informasi, Film Teman Tegar Maira dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai Kamis, 5 Februari 2026 mendatang. Film ini merupakan kelanjutan dari seri Tegar yang mengangkat kisah anak perempuan Papua dan isu lingkungan. (Azharu Rahmat)
Tidak ada komentar