Sorong Today, Sorong – Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya menyatakan dukungan penuh terhadap rencana kegiatan proyek pengumpulan dan identifikasi kerangka prajurit Jepang yang gugur pada Perang Dunia II.
Proyek tersebut merupakan kerja sama resmi antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jepang yang bersifat kemanusiaan dan telah berjalan sejak tahun 2019.
Gubernur PBD Elisa Kambu dalam pertemuan bersama Tim Gabungan Indonesia–Jepang di Sorong menyampaikan bahwa pemerintah daerah mendukung penuh pelaksanaan kegiatan tersebut selama dilakukan sesuai prosedur dan menghormati kearifan lokal masyarakat setempat.
“Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya pada prinsipnya mendukung kegiatan ini sebagai bagian dari kerja sama kemanusiaan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jepang. Kami berharap seluruh proses berjalan lancar, transparan, dan melibatkan masyarakat setempat,” ujar Gubernur PBD Elisa Kambu.
Dari pihak Jepang, kegiatan ini dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang yang dalam pelaksanaannya diwakili oleh Kementerian Kebudayaan Jepang. Tim Jepang hadir sebagai tim pelaksana harian yang ditunjuk langsung oleh kementerian terkait dan bekerja sama dengan tim dari Indonesia.
Perwakilan Tim Jepang menjelaskan bahwa fokus utama kegiatan ini adalah pencarian, pengumpulan, dan identifikasi kerangka prajurit Jepang melalui pendekatan ilmiah, termasuk analisis DNA.
“Kami menggunakan metode ilmiah dan teknologi DNA untuk memastikan identitas kerangka yang ditemukan. Tujuan utama kami adalah mengembalikan prajurit yang gugur kepada keluarga mereka dengan penuh penghormatan,” jelas perwakilan Tim Jepang.
Selama berada di Papua Barat Daya, tim dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke Kantor Gubernur Papua Barat Daya, sebelum melanjutkan kegiatan lapangan ke Kabupaten Tambrauw, khususnya Distrik Sausapor. Lokasi tersebut diduga menjadi tempat pemakaman prajurit Jepang berdasarkan arsip dan laporan militer Amerika Serikat.
Penanggung jawab kegiatan dari sektor tenaga kerja dan kesehatan, Yuni Suka menjelaskan bahwa pencarian di lapangan tidak mudah mengingat peristiwa Perang Dunia II telah berlangsung sekitar 80 tahun lalu.
“Kondisi lapangan sudah banyak berubah. Karena itu, kami sangat membutuhkan dukungan dan informasi dari masyarakat setempat untuk memastikan titik-titik yang diduga sebagai lokasi pemakaman prajurit Jepang,” ungkap Yuni.
Selain Distrik Sausapor, tim juga menerima informasi mengenai dugaan keberadaan kuburan prajurit Jepang di wilayah Desa Emaus. Beberapa titik bahkan dilaporkan memiliki monumen yang diduga berkaitan dengan pemakaman prajurit Jepang. Setelah rangkaian kegiatan di Sorong dan Tambrauw, tim dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Manokwari.
Dalam proses pencarian dan identifikasi, tim bekerja sama dengan kementerian dan lembaga terkait di bidang pendidikan serta penelitian. Pemeriksaan DNA dilakukan untuk memastikan apakah kerangka yang ditemukan benar merupakan prajurit Jepang.
Perwakilan tim turut mengimbau masyarakat agar tidak menyentuh atau memindahkan tulang belulang yang ditemukan.
“Kami mohon kepada masyarakat, jika menemukan tulang belulang atau benda yang diduga berkaitan dengan prajurit Jepang, agar dibiarkan sebagaimana adanya. Kontaminasi dapat memengaruhi hasil analisis DNA,” jelas anggota tim.
Benda-benda pribadi seperti kalung identitas, tempat minum, foto keluarga, atau sikat gigi dinilai sangat membantu dalam proses identifikasi. Informasi dari masyarakat akan menjadi bahan penting untuk penelitian lanjutan oleh tim gabungan Indonesia–Jepang.
Untuk menjamin kelancaran kegiatan, tim menegaskan bahwa setiap tahapan lapangan akan dilakukan melalui koordinasi dengan kepala desa dan tokoh adat setempat.
“Sebelum dilakukan penelitian atau penggalian, kami akan meminta persetujuan masyarakat melalui kepala desa dan tokoh adat. Seluruh proses akan dilakukan secara terbuka dan sesuai prosedur,” tambah perwakilan tim.
Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya menilai proyek ini tidak hanya sebagai upaya pencarian sejarah, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan dan penyelesaian kemanusiaan bagi keluarga prajurit Jepang yang telah puluhan tahun menantikan kepastian mengenai nasib anggota keluarga mereka.
Dalam pertemuan tersebut turut hadir Gubernur PBD, Pj Sekda PBD, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat PBD, Kepala Badan Kesbangpol PBD, jajaran pimpinan perangkat daerah di lingkup Pemprov PBD, serta Tim Japan Association for Recovery and Repatriation of War Casualties (JARRWC). (*)
Tidak ada komentar