Sorong Today, Aimas – Satu unit rumah milik Jumail Gondoh (70), warga Jalan Apel, Kelurahan Malagusa, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, hangus dilalap si jago merah pada Senin (26/1/2026) petang.
Peristiwa ini tidak hanya meninggalkan puing-puing bangunan, tetapi juga menyingkap lemahnya sistem penanggulangan kebakaran di wilayah tersebut.
Berdasarkan keterangan warga, kebakaran diduga dipicu oleh aktivitas pembakaran sampah di bagian belakang rumah korban. Api yang semula kecil dengan cepat membesar dan merambat ke seluruh bangunan rumah yang sebagian besar berbahan kayu.
Salah seorang tetangga korban, Sujari (55) mengatakan bahwa Jumail yang sehari-hari bekerja serabutan mengalami keterbatasan penglihatan akibat faktor usia.
“Sebelum keluar rumah sekitar pukul 17.25 WIT, beliau sempat diingatkan warga agar berhati-hati karena ada bakar sampah. Namun karena sudah sepuh, peringatan itu tidak terlalu diperhatikan,” ungkap Sujari kepada wartawan.
Sekitar pukul 18.45 WIT, bertepatan dengan waktu shalat Magrib, api mulai membesar dari bagian belakang rumah. Dalam waktu singkat, kobaran api melalap seluruh bangunan.
Warga sekitar yang panik berupaya melakukan pemadaman secara manual menggunakan ember dan peralatan seadanya. Namun usaha tersebut tidak membuahkan hasil akibat besarnya kobaran api serta keterbatasan pasokan air.
“Kami sudah berusaha semampu kami, tapi api terlalu besar dan air sangat terbatas,” imbuhnya.
Situasi semakin memprihatinkan ketika bantuan resmi sulit diperoleh. Warga sempat menghubungi pihak kepolisian setempat, namun mobil water canon yang biasa digunakan untuk penanganan darurat dilaporkan dalam kondisi rusak dan tidak dapat dioperasikan.
Ironisnya, hingga kejadian berlangsung, Pemerintah Kabupaten Sorong belum memiliki armada pemadam kebakaran yang siaga di wilayah Aimas dan sekitarnya. Warga juga mengaku tidak mengetahui nomor darurat pemadam kebakaran yang dapat dihubungi secara cepat.
“Kalau ada mobil damkar yang standby di Aimas, mungkin rumah ini masih bisa diselamatkan. Kami sangat kecewa,” ucapnya.
Bantuan pemadaman akhirnya datang setelah satu unit mobil tangki air milik Yonzipur 20/PPA, disusul mobil tangki air mini berkapasitas sekitar 1.100 liter, tiba di lokasi. Proses pemadaman berlangsung hampir satu jam hingga api berhasil dipadamkan sepenuhnya.
Untuk mengantisipasi risiko korsleting listrik, aliran listrik di sekitar lokasi kejadian sempat diputus sementara sebelum akhirnya kembali dinyalakan bagi rumah warga yang tidak terdampak.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun korban harus menelan pil pahit karena seluruh harta bendanya ludes terbakar. Kerugian material ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.
Peristiwa kebakaran ini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah. Minimnya armada pemadam kebakaran, lemahnya kesiapsiagaan, serta ketiadaan sistem respons cepat di kawasan permukiman padat dinilai sebagai bentuk kelalaian struktural yang harus segera dibenahi.
Musibah kebakaran di Aimas seharusnya tidak berhenti sebagai catatan peristiwa semata, melainkan menjadi bahan evaluasi serius agar tragedi serupa tidak kembali terulang dengan dampak yang lebih besar. (*)
Tidak ada komentar