Sorong Today, – Bagi masyarakat di Tanah Papua, Desember bukan sekadar pergantian kalender liturgi. Ia adalah sebuah ruang perjumpaan budaya yang mempertegas jati diri Papua sebagai entitas yang komunal dan inklusif. Natal dalam perspektif Papua melampaui batas-batas doktrinal; ia menjelma menjadi manifestasi teologi kontekstual yang berakar pada tradisi lokal dan semangat pluralisme yang autentik.
Realitas Demografis: Potret Keragaman yang Dinamis
Berdasarkan data sensus terbaru, komposisi penduduk di Daerah Otonomi Baru (DOB) Papua menunjukkan keragaman yang kian kontras. Di Provinsi Papua Barat, persentase penduduk Muslim mencapai sekitar 38%, sementara di wilayah seperti Fakfak, angka ini hampir seimbang dengan penduduk Kristen. *Di Provinsi Papua (induk), dominasi umat Kristiani tetap kuat di angka 80-90%.
Data ini bukan sekadar angka statistik, melainkan peta jalan sosiologis. Di Papua, interaksi lintas iman terjadi secara intensif setiap hari. Kajian Papuan Centre menunjukkan bahwa tingginya angka perkawinan silang antaragama dalam satu klan menjadi “benteng alamiah” yang menjaga stabilitas sosial saat Natal tiba.
Anatomi Kebersamaan: Bakar Batu dan Solidaritas Pegunungan
Di wilayah Lapago dan Meepago, Natal dirayakan melalui ritus Bakar Batu (atau Barapen). Secara antropologis, ritual ini adalah mekanisme penyelesaian konflik dan pengukuhan persaudaraan. Ketika asap mulai membubung dari tumpukan batu yang dipanaskan, di sanalah sekat-sekat sosial luruh.
*Pluralisme dalam Bakar Batu Natal terletak pada penghormatan terhadap “saudara jauh”. Di daerah dengan keragaman keyakinan, masyarakat dengan sadar membagi lubang pembakaran. Pemisahan konsumsi dilakukan bukan untuk menciptakan jarak, melainkan bentuk penghormatan terhadap hukum agama saudara mereka yang Muslim.* Inilah yang kita sebut sebagai *toleransi berbasis meja makan—sebuah level kerukunan yang paling mendasar sekaligus paling dalam.
Tantangan Masa Depan: Modernitas dan Polarisasi
Meskipun akar pluralisme di Papua sangat kuat, Papuan Centre_mencatat adanya tantangan-tantangan baru yang harus diwaspadai dalam menjaga nyala pluralisme ini:
Natal sebagai Narasi Perdamaian
Secara sosiologis, perayaan Natal di Papua juga berfungsi sebagai katarsis sosial. Di tengah dinamika sosial-politik yang kompleks, Natal hadir sebagai jeda kemanusiaan. *Nyala lilin di gereja-gereja kecil, dari pesisir hingga pegunungan tengah, menyuarakan kerinduan kolektif akan “Tanah Damai”.
Keterlibatan remaja masjid dalam pengamanan Natal di kota-kota seperti Jayapura, Merauke, atau Sorong bukan sekadar protokoler. Ini adalah pernyataan politik kebudayaan bahwa Papua adalah rumah bersama. Pluralisme di Papua tidak tumbuh dari teori Barat tentang liberalisme, melainkan dari kearifan lokal yang memandang sesama sebagai “setengah dari diri saya”.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Natal dan pluralisme di Papua memberikan pelajaran penting bagi Indonesia: bahwa harmoni hanya bisa dicapai jika kita berhenti melihat perbedaan sebagai ancaman. Untuk menjaga nyala ini tetap terang, diperlukan upaya sistematis dalam merevitalisasi nilai-nilai adat ke dalam kurikulum pendidikan lokal dan *memperkuat ruang-ruang dialog lintas iman yang berbasis pada kegiatan ekonomi dan kebudayaan, bukan sekadar seremonial.
Pada akhirnya, nyala pluralisme dari Papua adalah nyala yang menjaga harapan. Bahwa di atas tanah yang kaya ini, perdamaian bukanlah sebuah angan, melainkan sebuah praktik yang dihidupi melalui asap bakar batu, dentuman tifa, dan ketulusan hati untuk saling menjaga dalam perbedaan. (*)
*) Penulis : Direktur Eksekutif Papuan Centre, Franky Umpain
Tidak ada komentar