Sorong Today – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sorong menggelar aksi penanaman mangrove sebagai upaya mitigasi dan pencegahan bencana di kawasan pesisir wisata mangrove km.12 Kota Sorong, Selasa (25/11/2025). Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur masyarakat, organisasi kebencanaan, serta perwakilan instansi pemerintah daerah.
Ketua Gugus Satuan Khusus Kebencanaan HAKLI, Johny Sumbung, SKM., M.Kes, bersama Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Sorong, Ludya Wattimena, SKM., M.Kes, turut hadir dan langsung melakukan penanaman bibit mangrove di lokasi kegiatan.
Dalam keterangannya, Johny Sumbung menjelaskan bahwa aksi ini merupakan tindak lanjut dari program edukasi masyarakat terkait pentingnya mitigasi bencana di wilayah pesisir.
“Setelah sosialisasi, peserta diterjunkan ke lapangan untuk melakukan aksi penanaman mangrove dalam rangka pencegahan dan mitigasi bencana,” ujar Johny.

Johny menguraikan bahwa kawasan pesisir merupakan wilayah yang sangat rentan terhadap berbagai bencana alam, terutama jika lingkungan pesisir telah mengalami kerusakan. Berkurangnya daya dukung lingkungan dapat meningkatkan risiko bencana seperti, abrasi dan erosi pantai, tsunami, banjir rob, Gempa bumi, angin topan, kenaikan muka air laut, kekeringan dan longsor pesisir.
Menurutnya, penanaman mangrove adalah langkah paling efektif untuk menahan abrasi serta melindungi daratan dari gelombang dan intrusi air laut. Tanaman mangrove juga berperan besar dalam menjaga stabilitas pantai, menurunkan kadar CO₂, serta menyaring kontaminan di perairan.
Mangrove merupakan kelompok tumbuhan yang mampu hidup di wilayah pesisir dengan kadar garam tinggi. Mangrove umumnya tumbuh di pantai yang datar dan terlindung, sehingga mampu menahan gelombang besar dan mencegah erosi.

Jenis-jenis mangrove yang banyak ditemukan di Indonesia yaitu Avicennia sp (Api-api), Rhizophora sp (Bkau), Bruguiera sp (tancang), Aonneratia sp (bogem/pedada). Mangrove tersebar luas di wilayah tropis dan subtropis, antara 32° LU hingga 38° LS.
Johny kembali menegaskan bahwa mangrove memiliki peran vital dalam kehidupan manusia, bahkan bagi masyarakat yang tinggal jauh dari wilayah pantai. Fungsinya yaitu Menstabilkan garis pantai dari abrasi, Melindungi pantai dari erosi, Mengendapkan lumpur dan menjaga struktur tanah pesisir, Menjadi penyangga terhadap intrusi air laut, Menurunkan kadar CO₂ dan menyaring polutan.
“selain itu, meangrove memiliki manfaat yakni menyerap polusi udara dari kendaraan, Mengurangi dampak perubahan iklim dan pemanasan global, Melindungi sumber air tawar dari kontaminasi air laut, Menjaga kebersihan laut dengan menyaring sampah dan limbah dan Masih banyak manfaat mangrove yang mungkin tidak disadari masyarakat, terutama yang tinggal jauh dari pesisir,” kata Johny.
Johny juga mengingatkan bahwa ekosistem mangrove kini menghadapi berbagai ancaman, seperti, penebangan liar, pembangunan yang tidak terencana, tumpahan minyak dan pembuangan limbah, perubahan iklim, konversi lahan, dan penambangan.
Jika kerusakan dibiarkan, dampaknya sangat fatal, misalnya hilangnya keanekaragaman hayati, kerusakan ekosistem pesisir, meningkatnya kerentanan bencana, abrasi, rusaknya pemukiman nelayan, hilangnya sumber daya perikanan, dan perubahan iklim mikro pesisir.

Sebagai langkah mitigasi bencana, Johny menegaskan pentingnya konservasi mangrove yang didukung oleh kebijakan dan pengelolaan berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan Keppres No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung., menetapkan kawasan hutan lindung, rehabilitasi kawasan rusak, penataan ruang pesisir, penguatan regulasi dan penegakan hukum, kerja sama dengan organisasi lingkungan, edukasi masyarakat tentang pentingnya mangrove.
“Ditanam berarti memberi kehidupan bagi ribuan organisme. Menjaga mangrove adalah menjaga masa depan manusia.” Tutup Johny. (Has/SorongToday.com)
Tidak ada komentar